Makkah — Kabar duka datang dari Masjidil Haram, Makkah. Sheikh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani, salah seorang muazin Masjidil Haram, meninggal dunia pada Senin, 21 September 2026.
Kepergian Sheikh Ibrahim menjadi kabar yang menyentuh bagi banyak umat Islam. Pasalnya, selama bertahun-tahun suaranya menjadi bagian dari suasana ibadah di Masjidil Haram, termasuk ketika mengumandangkan azan dan menyampaikan takbir dari Mukabbariyyah.
Sebelum wafat, Sheikh Ibrahim masih sempat mengumandangkan azan Subuh di Masjidil Haram pada Senin dini hari. Azan tersebut kemudian menjadi lantunan terakhirnya dari masjid suci tersebut.
Mengabdikan Diri pada Azan Sejak Muda
Sheikh Ibrahim dikenal memiliki kedekatan dengan azan sejak usia remaja. Ia lahir dan tumbuh di Madinah dalam lingkungan keluarga yang religius. Sang kakek merupakan seorang penghafal Al-Qur'an yang turut memberikan pengaruh besar terhadap pendidikan agama dan kehidupannya.
Ketika masih muda, Sheikh Ibrahim mulai mengumandangkan azan di sejumlah masjid di sekitar tempat tinggalnya di Madinah. Pada masa awal, ia mengenal gaya azan Mesir sebelum kemudian banyak menggunakan tradisi azan khas Madinah selama masa sekolah hingga kuliah.
Ia juga pernah menjalankan tugas sebagai muazin secara bergantian bersama beberapa tetangganya. Setelah sempat berhenti karena menjalani pekerjaan sebagai pengajar di luar Madinah, ia kembali mendapat kesempatan untuk mengumandangkan azan di sebuah masjid di Madinah.
Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawanya ke Masjidil Haram.
Pada Ramadan 1439 H atau sekitar 2018, Sheikh Ibrahim dipercaya menjadi salah satu muazin Masjidil Haram.
Dari Madinah ke Makkah
Menariknya, perjalanan Sheikh Ibrahim sebagai muazin tidak hanya mempertemukannya dengan tradisi azan Madinah.
Sejak kecil ia juga mengenal karakter azan Makkah. Dalam salah satu kunjungannya ke Makkah bersama sang ayah, ia bertemu dengan Sheikh Abdul Latif Mulla, mantan muazin Masjidil Haram yang memiliki hubungan dengan keluarganya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian membentuk karakter lantunan azannya.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip sejumlah media, Sheikh Ibrahim menggambarkan perbedaan karakter dua kota suci tersebut dengan ungkapan bahwa Makkah memiliki keagungan, sementara Madinah memiliki keindahan.
Gugup Saat Pertama Kali Mengumandangkan Azan di Masjidil Haram
Menjadi muazin di Masjidil Haram tentu bukan sebuah tugas yang ringan.
Sheikh Ibrahim pernah menceritakan bahwa dirinya tidak dapat tidur pada malam sebelum pertama kali dipercaya mengumandangkan azan di Masjidil Haram.
Baginya, suara yang keluar dari mikrofon Masjidil Haram bukan sekadar lantunan biasa. Kesalahan kecil sekalipun terasa memiliki tanggung jawab yang sangat besar karena azan tersebut didengar oleh ribuan jamaah yang sedang beribadah di sekitar Ka'bah.
Setelah menyelesaikan azan pertamanya, ia kemudian melihat rekaman dari luar Masjidil Haram. Dalam rekaman tersebut, ribuan jamaah terlihat melakukan tawaf sementara suara azannya terdengar di kawasan Masjidil Haram.
Momen tersebut begitu menyentuh dirinya hingga ia menangis.
Sheikh Ibrahim memandang kesempatan tersebut bukan semata-mata sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai sebuah karunia dan amanah dari Allah SWT.
Bagi Sheikh Ibrahim, Azan Adalah Amanah
Di balik suara yang dikenal jamaah, Sheikh Ibrahim juga dikenal karena pandangannya mengenai tanggung jawab seorang muazin.
Baginya, azan bukan hanya persoalan suara yang indah. Seorang muazin membawa pesan yang sangat besar: mengajak manusia untuk memenuhi panggilan Allah dan menegaskan kesaksian tentang keesaan-Nya serta kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, ia memandang seorang muazin harus menjaga kejujuran, amanah, dan keikhlasan dalam menjalankan tugas.
Sejumlah orang yang mengenalnya juga menggambarkan kedekatannya dengan ibadah. Salah seorang muazin Masjidil Haram pernah menyebut bahwa Sheikh Ibrahim terkadang menghabiskan waktu di Mukabbariyyah dan memperbanyak ibadah, terutama pada penghujung malam.
Dimakamkan di Pemakaman Al-Mu'alla
Salat jenazah Sheikh Ibrahim dilaksanakan setelah salat Asar di Masjidil Haram dan dipimpin oleh Sheikh Waleed Shamsan.
Setelah itu, jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al-Mu'alla, salah satu kompleks pemakaman bersejarah di Makkah.
Kepergiannya meninggalkan rekaman suara yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pengalaman spiritual jamaah di Masjidil Haram.
Bagi jamaah yang pernah beribadah di Makkah, suara azan dari Masjidil Haram bukan sekadar suara panggilan salat. Ia sering menjadi bagian dari kenangan yang melekat setelah seseorang kembali ke tanah air.
Kini, salah satu suara tersebut telah berhenti berkumandang.
Namun, lantunan azan terakhir Sheikh Ibrahim pada Subuh 21 September 2026 akan menjadi bagian dari rekaman sejarah perjalanan seorang muazin yang mengabdikan hidupnya untuk menyerukan panggilan salat di Masjidil Haram.
Semoga Allah SWT mengampuni Sheikh Ibrahim Al-Madani, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
Sumber: HIMPUH, detikHikmah, Saudi Gazette, dan sumber pemberitaan terkait.





