Ketika berada di Masjidil Haram, perhatian jemaah biasanya tertuju pada Ka'bah, Hajar Aswad, pintu Ka'bah, atau kiswah yang menyelimuti Baitullah.
Namun, ada detail kecil di bagian bawah Ka'bah yang mungkin luput dari perhatian. Di dekat pintu Ka'bah terdapat delapan keping batu pualam berwarna kekuningan yang menyimpan cerita sejarah panjang.
Ukurannya memang tidak besar. Salah satu keping terbesar disebut berukuran sekitar 21 x 33 sentimeter. Permukaannya juga memiliki tulisan dan ukiran yang membuat batu tersebut berbeda dari bagian bangunan Ka'bah lainnya.
Yang menarik, delapan batu tersebut bukan sekadar ornamen. Di balik keberadaannya terdapat kisah tentang sejarah Masjidil Haram, pembangunan area tawaf, hingga cerita bahwa batu-batu tersebut pernah hilang selama lebih dari satu setengah abad.
Batu Pualam Berusia Ratusan Tahun
Menurut keterangan yang dikutip HIMPUH dari Al Arabiya, batu-batu tersebut berkaitan dengan pembangunan kembali area tawaf Masjidil Haram pada masa Khalifah Abu Jafar Al Mansur.
Salah satu batu disebut memiliki penanda tahun 631 Hijriah yang terukir pada permukaannya.
Materialnya dikenal sebagai batu pualam atau alabaster. Karakter batu yang relatif lunak membuat permukaannya memungkinkan untuk diberi ukiran dan tulisan.
HIMPUH juga menyebut batu tersebut sebagai salah satu jenis pualam yang dikenal dengan warna kuning kecokelatan dan memiliki nilai sejarah yang panjang.
Bagi jemaah yang melihatnya secara langsung, ukurannya mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika membayangkan berapa banyak generasi yang telah berlalu sejak batu tersebut ditempatkan di sekitar Ka'bah, keberadaannya menjadi jauh lebih menarik.
Berada di Kawasan yang Berkaitan dengan Sejarah Salat
Hal lain yang membuat lokasi delapan batu tersebut menarik adalah kaitannya dengan riwayat mengenai Malaikat Jibril AS yang mengajarkan waktu-waktu salat kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam riwayat Sunan Abu Dawud nomor 393, terdapat kisah mengenai Jibril AS yang memimpin Nabi Muhammad SAW melaksanakan salat pada waktu-waktu tertentu selama dua hari.
Riwayat tersebut kemudian menjadi salah satu landasan pembahasan mengenai waktu pelaksanaan salat dalam Islam.
Karena itu, kawasan di sekitar Ka'bah tidak hanya memiliki nilai sejarah dari sisi bangunan, tetapi juga menyimpan berbagai kisah yang berkaitan dengan perjalanan ibadah umat Islam.
Bagi jemaah umrah, hal-hal seperti ini membuat pengalaman berada di Masjidil Haram menjadi lebih bermakna. Setiap sudut yang terlihat sederhana bisa memiliki latar belakang sejarah yang panjang.
Pernah Hilang Selama 164 Tahun
Perjalanan delapan batu tersebut ternyata tidak selalu berada di tempatnya.
Menurut laporan yang dikutip dalam artikel HIMPUH, seluruh keping batu tersebut pernah dicuri pada 1231 Hijriah. Setelah itu, keberadaannya tidak diketahui selama bertahun-tahun.
Batu-batu tersebut disebut baru ditemukan kembali sekitar 164 tahun kemudian.
Pada 1377 Hijriah, delapan keping pualam itu kemudian dikembalikan ke lokasi semula di Ka'bah. Detail mengenai siapa yang mengambilnya dan alasan di balik pencurian tersebut tidak diketahui secara pasti.
Kisah hilangnya batu-batu tersebut membuat keberadaannya saat ini menjadi semakin menarik. Benda yang ukurannya relatif kecil itu ternyata pernah melalui perjalanan panjang sebelum akhirnya kembali ke tempatnya.
Mengapa Jemaah Sering Tidak Menyadarinya?
Masjidil Haram merupakan salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi umat Islam dari seluruh dunia.
Ketika melakukan tawaf, perhatian jemaah secara alami lebih banyak tertuju pada Ka'bah dan rangkaian ibadah yang sedang dilakukan. Belum lagi suasana yang sangat ramai membuat detail-detail kecil di sekitar Ka'bah mudah terlewat.
Delapan keping batu tersebut berada di bagian bawah dekat pintu Ka'bah sehingga tidak menjadi bagian yang paling mudah terlihat.
Justru karena itulah keberadaannya menarik untuk diketahui.
Sejarah Masjidil Haram tidak hanya tersimpan dalam bangunan-bangunan besar atau tempat yang terkenal. Detail kecil seperti batu pualam ini juga menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Ka'bah.
Ka'bah dan Sejarah Panjangnya
Ka'bah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Bangunan ini menjadi kiblat umat Islam dalam melaksanakan salat dan menjadi pusat ibadah tawaf ketika haji dan umrah.
Al-Qur'an juga mengisahkan Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS ketika meninggikan fondasi Baitullah.
Karena itu, berada di hadapan Ka'bah bukan hanya memberikan pengalaman spiritual bagi jemaah, tetapi juga mempertemukan mereka dengan sejarah Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Delapan batu pualam yang berada di bagian bawah Ka'bah hanyalah salah satu contoh kecil dari begitu banyak kisah yang tersimpan di Masjidil Haram.
Saat Umrah, Jangan Hanya Melihat—Cobalah Memahami
Bagi jemaah yang akan menunaikan umrah, mengenal sejarah tempat-tempat yang dikunjungi dapat membuat perjalanan terasa lebih bermakna.
Masjidil Haram bukan hanya tempat untuk melaksanakan tawaf dan salat. Di dalam dan di sekitarnya terdapat banyak situs, peninggalan, serta kisah sejarah yang berkaitan dengan perjalanan umat Islam.
Delapan keping batu pualam di dekat Ka'bah mungkin terlihat sederhana. Namun kisah tentang usianya, ukiran yang terdapat di permukaannya, kaitannya dengan sejarah Masjidil Haram, hingga cerita bahwa batu-batu tersebut pernah hilang selama 164 tahun menunjukkan bahwa sejarah besar terkadang tersimpan dalam benda yang sangat kecil.
Jadi, ketika suatu hari berkesempatan beribadah langsung di Masjidil Haram, mungkin ada baiknya sesekali memperhatikan detail-detail kecil di sekitar Ka'bah.
Sebab, di balik sesuatu yang tampak sederhana, bisa saja tersimpan kisah panjang yang telah melewati ratusan tahun.
Sumber utama: HIMPUH News, dengan informasi sejarah yang dikutip dari Al Arabiya dan riwayat Sunan Abu Dawud.





